(((HIPOTESA)))
RESPON FISIOLOGIS HEWAN TERHADAP
KEBISINGAN
Oleh : Kalasvvara
Ketika kita bicara soal bunyi hal
yang selalu terbesit dipikiran kita adalah sesuatu yang bisa kita tangkap
melaui indra pendengaran kita (baca.telinga) itu bisa berupa musik, gesekan,
tepuk tangan, percakapan, jeritan atau hal lain yang bisa kita tangkap. Tentu
kita bertanya kenapa itu bisa ditangkap oleh telinga kita. Pada dasarnya bunyi
merupakan gelombang mekanik yaitu gelombang yang memerlukan medium saat
merambat atau bisa dikatakan bunyi termasuk juga gelombang longitudinal karena
arah getarnya sejajar dengan rambatanya. Namun yang perlu kita ketahui tidak
semua bisa kita tangkap oleh telinga kita. Karena pada dasarnya manusia hanya
bisa menangkap bunyi di range frequensi 20hz sampa 20khz.
Hewan, sebagaimana makhluk hidup
lainya dan makhluk tak hidup sekalipun bersama-sama mebersamai atau membentuk
suatu lingkaran lingkungan hidup hewan. Maka dari itu antara makhluk hidup dan
lingkungan sekitar pasti akan menimbulkan suatu pola interaksi satu sama lain
dalam sistem yang kompleks. Sistem yang terbentuk dari interaksi makhluk hidup
dan lingkunganya itulah yang namanya ekosistem. Layaknya makhluk hidup pada
umumnya hewan juga bergantung pada alam sebagai sumber kehidupan yang membutuhkan
oksigen, ketersediaan pakan, lingkungan yang nyaman, serta iklim yang cocok
bagi hewan itu untuk tumbuh dan berkembang.
Para ahli filsafat yunani seperti
hipocrates dan Aristoteles, merupakan ahli yang filsuf yang bekerja dengan
mengamati sejarah alam perkembangan hewan dan tumbuhan, yang pada
perkembanganya sering kita kenal dengan ekologi. Ekologi modern pada umumnya
merupakan percabangan dari sejarah alam, ilmu yang muncul sekitar abad ke 10.
Charles Darwin dengan teori evolusinya megembangkan konsep adaptasi yang di
perkenalkan pada tahun 1959 merupakan batu pertama yang sangat penting bagi
teori ekologi modern yang hingga saat ini kita pelajari.
Faktor lingkungan dapat
diklasifikasikan dalam dua komponen yaitu abiotic (air, udara, tanah, sinar
matahari, suhu dan mineral) dan abiotic (semua makhluk hidup dibumi baik
manusia, tumbuhan maupun hewan). Kedua faktor tersebut memiliki peranan penting
dalam proses pertumbuhannya. Terutama lingkungan abiotic yaitu lingkungan yang
sangat berperan menyebabkan resiko stres fisiologis pada sapi. Maka dari itu
saya tertarik untuk sedikit menuliskan tentang hubungan interaksi hewan dan
kebisingan terhdap respon fisiologis berdarkan catatan atau hasil riset-riset
sebelumnya dan didorong dengan rasa penasaran saya yang sangat mendalam sedalam
aku tak bisa melepaskan mu.
Adanya
stress pada sapi bisa diakibatkan karena ada gangguan di sekitar sapi tersebut.
Gangguan yang berasal dari luar mengganggu hormone laktasi. Hal itu bisa
terjadi karena kurangnya rasa nyaman pada sapi tersebut yaitu seperti pemerahan
terlalu awal, adanya ganggu dari hewan lain, rasa sakit pada saat pemerahan,
sapi terkena mastitis, hal tersebut dapat berdampak pada jumlah susu yang
dikeluarkan atau tingkat produktivisnya terganggu.
Kebisingan merupakan tingkat bunyi
yang tidak diinginkan karena dalam tingkat dan waktu tertentu dapat menimbulkan
gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (Dirjen P2M dan PLP DEPKES
RI 1993). Tingkat kebisingan diatas 70 db (desible) dapat berkontribusi
terhadap gangguan kardiovaskuler (Inayah, 2008). Menurut surat edaran menteri
ketenaga kerjaan Indonesia no 51/1999 di Indonesia nilai ambang batas
kebisingan ditetapkan 85 db pada skala A (dbA) selama 8 jam kerja. Pemaparan
kebisingan 90-95 dbA dan 100-105 dbA dapat meningkatkan kadar kortisol dalam
darah tikus putih (Marpaung, 2006). Hal tersebut terjadi karena intensitas
kebisingan yang tinggi dapat mengakibatkan stress yang mempengaruhi hipotalamus
dan akhirnya mengganggu sistem kerja kelenjar endokrin. Akibatnya ketika stress
hipotalamus secara langsung mengaktifkan sistem saraf simpatis mengeluarkan Corticotropin releasing hormone (CRH)
untuk merangsang Adeno corticotropin
hormone (ACTH) dan kortisol serta menyebabkan sekresi ephineprine. Hormon-hormon yang disekresikan saat stress dapat
meningkatkan kadar glukosa darah (Sherwood. 1996).
Dalam banyak penelitian kadar hormone
kortisol dalam darah ternak dapat dijadikan sebagai indikasi tingkat stress
yang disekresikan oleh tubuh dengan pola diurnal. Pada kondisi normal,
menjelang pagi hari kadar hormone kortisol akan mengalami peningkatan dan
mengalami penurunan pada siang sampai sore hari. Sekresi hormone ini terjadi
karena adanya aktivitas aksis hipotalao-hipofisis-adrenal (Mohle et., al. 2002).
Rata-rata kadar hormone kortisol normal pada sapi brahman cross adalah 45 ng/ml
(dunn dan beridge 1990). Menurut matteri et., al. 2000 ternak yang stress pusat
kognitif pada otak akan meneriman stimulus yang dianggap ancaman dari
lingkungan dan melakukan reaksi berupa mekanisme respon melalui sinyal nervus yang akan mengaktivikasi
hipotalamus menghasilkan Corticotropin
releasing hormone (CRH). Hormon ini akan tersekresi dan ditransport menuju anterior pituitary melalui sistem
pembuluh darah portal hipofisis yang berefek pada peningkatan sintesis dan
sekresi Adeno corticotropin hormone
(ACTH) oleh korteks adrenal (Von Borrel, 2001). Selanjutnya ACTH akan memiliki
aksi terhadap steroidogenesis dan akan mendukung pengangkatan kortesol serta
perubahan enzimatik menjadi hormone glukokortikoid berupa kortisol dan
kortikosterone.
Kadar hormone kortisol pada sapi PFH kawin
berulang rata-rata 6,790 ng/mg sedangkan sapi yang tidak kawin berulang hormone
kortisolnya 3,200 ng/mg. efek kebisingan pada produktifitas dan perilaku hewan
tidak hanya bergantung pada intensitas atau kenyaringan (dB), frekuensinya
(Hz), dan durasi serta polanya (termasuk potensi getaran), tetapi juga pada
kemampuan pendengaran spesies dan breed hewan, usia dan keadaan fisiologis
hewan pada saat terpapar. Ini juga tergatung pada pengalaman hewan tentang
suara apa yang telah didengar hewan selama hidunya (riwayat paparan kebisingan
hewan) dan prediksi stimulus akustik (castelhano-carlos dan baumans, 2009).
Sapi mendengar frekuensi tinggi jauh lebih baik daripada manusia, batas
frekuensi tinggi pada sapi 37kHz dibandingkan dengan manusia 18Khz(hillips,
2009). Ambang batas ketidaknyaman untuk sapi 90-100 dB dengan kerusakan fisik
pada telingan terjadi di 110dB. Breed sapi perah lebih sensitive terhadap
kebisingan jika dibandingkan dengan sapi lain (lanier, 2000). Rentang
pendengaran domba 125Hz–40Khz dengan frekuensi paling sensitive sedikit lebih
tinggi daripada sapi dan babi pada 10khz. Domba paling sensitive pada 7khz
(hefner 1998).
Wah mantapp si hipotesanya, semangat berkarya brother.
ReplyDelete